Di Ngropoh Ada Durian Diponegoro, Jangan Coba Kalau Tak Mau Ketagihan

0
61
Sakir saat menunjukkan durian Diponegoro khas Ngropoh, Kranggan, Temanggung.

Temanggung, Harianjateng.com – Di Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, sejak beberapa tahun lalu, geliat bisnis durian makin diminati karena durian khas di sini memang maknyus. Salah satu petani sekaligus penjual durian Diponegoro adalah Sakir (41) warga Dukuh Kauman RT 13 RW 5 Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yang menggeluti bertani sekaligus berjualan durian. “Di Ngropoh sini, durian ini variannya namanya Diponegoro sama Bagong,” beber Sakir saat ditemui di rumahnya, Jumat (2/3/2018) malam.

Kalau Bagong itu yang bulat-bulat besar. “Kalau Diponegoro rasanya agak pahit,” lanjut dia.

Kalau warga sini menurut dia, durian Diponegoro banyak mengandung alkoholnya. Jika kebanyakan mengonsumsi bisa pusing.

Pohonnya, menurut dia, tingginya saja sampai 30 meter lebih. “Di sini pohonnya sudah puluhan tahun. Ada juga yang ratusan tahun peninggalan nenek moyang,” beber dia.

Dijelaskannya, bahwa pembeli dari Semarang, Jogjakarta, Magelang dan daerah lain. “Kalau wilayah Temanggung yang paling banyak,” lanjut dia.

Kalau satu musim, kata dia, satu pohon itu bisa mencapai minimal Rp 5 juta. “Saya punya sekitar dua puluh pohon lah.  Saya sejak dulu, tapi untuk fokus mengembangkan durian khas Ngropoh ya sekitar tiga tahunan. Kalau dulu yang terkenal Gentan di Brongkol dulu terkenal, tapi di sana tidak menjaga kualitas. Maksudnya banyak durian dari luar masuk tapi dibiarkan. Tapi kalau di sini, berani garansi. Kalau ada yang busuk bisa dikembalikan.

Dijelaskan Sakir, bahwa kalau merawat pohonnya ya dirabuk setahun dua kali. Memakai rabuk kandang dan KCL. Tapi yang paling penting ya rabuk kandang itu.

Kalau kelebihannya, kata dia, jelas di rasa daripada durian lain. “Rasa di sini ini memang ciri khas Ngropoh. Kalau penikmat pasti tahu. Tapi kalau orang awam ya nggak tahu karena yang penting enak. Kalau kulitnya ya agak tipis.

“Paling murah ya sekitar Rp 10.000 an dan yang paling super Rp 50.000. Kalau kemarin ya agak mahal bisa mencapai Rp 150.000 per satunya. Inti harga bergantung musim,” ujar pria tersebut.

Pengaruh harga, katanya, jelas karena cuaca. “Kalau pas matangnya pas musim kemarau jelas lebih bagus lagi. Durian itu bagusnya memang pas musim kemarau meski jumlahnya lebih sedikit,” lanjut Sakir.

Kalau pas panen, biasanya bulan Desember, sama Maret itu panen raya, lanjut dia, bisa dua tahun sekali lah. Rata-rata itu 25 tahun ke atas.

Kalau yang ada di sini, setahu saya, kata Sakir kepada Harianjateng.com, ya alami sudah ada sejak dulu. Tapi sejak di sini terkenal mulai dikelola serius. Apalagi yang sudah 100 tahun kan sudah banyak keluarganya. “Kalau di sini memang menjaga kualitas beneran karena tidak ada yang menjual bibit ke luar,” beber dia.

Kalau kendalanya, lanjut Sakir, ya paling lalat buah. Biasanya kalau telat menyemprot pakai pestisida ya dampaknya banyak yang busuk. “Kalau yang utama jelas hujan,” pungkas dia. (red-HJ33/Ibda).

Tinggalkan Komentar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here