Ponpes Hidayatul Quran Kaliwungu, Menumbuhkan Karakter Santri di Era Milenial

0
102

Kendal, Harianjateng.com-Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Quran Kaliwungu menggelar dialog bersama para santri dan pelajar disekitar lingkungan pondok pesantren dengan tema “Menumbuhkan Karakter Santri di era milenial”, Kamis (12/04/2018) bertempat di Aula Ponpes Hidayatul Quran Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

Gus Tommy, S.H., selaku pengasuh sekaligus narasumber dalam acara itu menuturkan bahwa jaman dulu ketika orang tua hendak mengirim putra dan putrinya ke pesantren, pertanyaan yang sering muncul adalah kitab apa yang diajarkan di pesantren? Kiainya alumni pesantren mana? Sanad keilmuannya menyambung ke kiai siapa dan seterusnya.

Namun sekarang ini, kata Gus Tommy “Pertanyaan orang tua berbeda. Dari mereka banyak bertanya, apakah di kamar pesantren ada AC-nya? bagaimana tempat tidurnya di kasur atau lesehan? bagaimana makanannya bergizi atau tidak? mencuci seperti apa? boleh pulang tidak seminggu sekali?,” jelasnya.

Lanjut Gus Tommy, berjalanya waktu banyak sekali pergeseran nilai-nilai didalam pesantren, begitupun bergesernya karakter seorang santri, dimana dulu seorang santri belajar dipesantren tidak sebatas mencari ilmu, tapi juga keberkahan. Sedpdangkan sekarang santri di Jaman Now (sekarang), banyak belajar dari gogle, dimana keberkahan dan nilai-nilai perjuangan dalam mencari ilmu telah hilang.

“Oleh karena itu di jaman sekarang banyak orang belajar agama hanya sampai tenggorokan saja, banyak paham hadits, atau bahkan hafal alquran, tidak mendalami arti dan makna yang sesungguhnya all hasil ahlaknya tidak mencerminkan kehidupan beragama,” ungkap Gus Tommy.

Ilmu didapat tidak cukup secara otodidak, akan tetapi yang paling penting adalah adanya seorang guru, yang membimbing kita, agar kita tidak kesasar dalam hidup dan beragama. Di dalam kitab bajuri disebutkan bahwa barang siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah syaitan, maka dari itu kita hendak punya guru dalam belajar agama.

Dan karakter seorang santri yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita adalah dengan berkhidmat kepada guru, maka kita akan dapati keberkahan dan kemanfaatan sebuah ilmu.

Diera milienial yang semakin melupakan nilai-nilai penghargaan dan penghormatan kepada guru, Gus Tommy menuturkan, “kita sebagai seorang muslim yang baik haruslah sadar akan pentingnya keberkahan, jadi kita semua haruslah memupuk semangat dalam mencari keberkahan dari seorang guru, ataupun ilmu dan kesadaran dalam berkhidmat kepada guru, kiai, ustad, ulama, pesantren dan masyarakat benar benar harus kita amalkan.”

Red-HJ99/Heri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here