Melalui Riset, STAINU Perkuat Islam Nusantara

0
31

Temanggung , Harianjateng.com- Tepat pukul 14.00 WIB, STAINU Temanggung mengadakan Stadium General dengan tema “Penguatan STAINU Temanggung Berwawasan Riset Islam Nusantara dalam Menjawab Tantangan Era Revolusi Industri 4.0” di lantai 3 Aula STAINU Temanggung,  Sabtu (08/09/2018).

Dalam penyampaian materinya, Muhammad Aziz Hakim, Kepala Seksi Pengabdian Kepada Masyarakat Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menegaskan banyak hal tentang riset berwawasan Islam Nusantara.

Dalam acara itu, ada beberapa kata kunci yang Aziz katakan. “Ada tiga kata kunci dalam tema ini. Kampus riset, Islam Nusantara dan Revolusi Industri 4.0. Tema ini berat dan minimal kita mulai dari hal-hal kecil,” beber Wakil Sekjen PP GP Ansor 2015-2020 tersebut yang didampingi moderator Nashih Muhammad.

Untuk STAINU sendiri, Aziz menegaskan harus dikuatkan pada peran Tri Darma Perguruan Tinggi. “Ada pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ini harus terkoneksi dan saling mendukung karena menjadi tiga hal yang tidak bisa dipisahkan,” lanjut dia.

Pihaknya juga menegaskan, riset yang berwawasan Islam Nusantara bisa dimulai dengan pola pikir tawazun, moderat sebagai ruh dari Islam Nusantara itu sendiri. “Islam Nusantara itu ya tipe Islam di Indonesia yang tengah-tengah. Tidak mainstream kanan dan kiri. Harus paham tekstual dan kontekstual. Saya merujuk Rais Am PBNU KH. Ma’ruf Amin. Intinya, Islam Nusantara itu pada wilayah fikrah (pemikiran), akidah (keyakinan), amaliyah (amalan), harakah (gerakan),” lanjut dia.

Makanya, kata dia, karena kita di tengah-tengah, harus siap dihantam kelompok dan

Sementara apa bisa STAINU menjawab era Revolusi Industri 4.0? Aziz menegaskan bisa. “Minimal dikuatkan pada penelitiannya. Karena di sini belum ada fakultas atau jurusan eksak, FMIPA. Tapi kemarin sudah ada beberapa dosen sini lolos kluster penelitian Kemenag,” lanjut dia.

Di sisi lain, mantan aktivis PB PMII ini juga menjelaskan bahwa ada beberapa tipologi mahasiswa, salah satunya Mahasiswa yang memiliki pengetahuan intelektual dan aktif dalam kegiatan organisasi maupun pengabdian masyarakat. “Dari beberapa tipologi mahasiswa, mahasiswa STAINU Temanggung harus mampu mengembangkan pengetahuan intelektual akademis dan mampu berkontribusi dalam kegiatan organisasi ataupun pengabdian masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Muhammad Aziz Hakim yang berdarah Temanggung tersebut.

Selain itu beliau juga menambahkan bahwa Mahasiswa dan Dosen STAINU Temanggung harus percaya diri (PD)  aatu tidak minder dalam menghadapi tantangan zaman saat ini.
Beliau juga menegaskan salah satu cara kampus riset menjawab tantangan saat ini dengan cara menulis.

“Dengan menulis dosen dan mahasiswa STAINU Temanggung dapat memperkenalkan lembaganya dalam kancah nasional maupun internasional. Seperti yang sudah diikuti beberapa dosen STAINU Temanggung yang mengikuti karya tulis ilmiah nasional, yang hasilnya tak kalah dengan penulis luar dan menyabet juara salah satunya dosen tetap PGMI Hamidulloh Ibda, M. Pd. Beberapa waktu silam,” jelasnya semangat.

Dosen dan Mahasiswa STAINU Temanggung juga harus keluar dari zona aman dalam mencari peluang dalam menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0.

Dalam kegiatan tersebut, dihadiri oleh Jajaran penjabat, Kaprodi, Sekprodi, dosen dan karyawan serta Mahasiswa STAINU Temanggung.

Di akhir acara, Nashih menyimpulkan bahwa peran STAINU bisa menggalakkan gagasan kampus riset dari hal-hal kecil. “Islam Nusantara harus menjadi landasan dalam riset. Dan STAINU Temanggung harus bisa mengimplementasikannya dalam aspek Tri Darma Perguruan Tinggi,” ujar dia.

Red-HJ99/Ibda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here