Warung Sate Pak Doel Terlihat Seperti Museum

27
20

Kendal, Harianjateng.com- Terlihat pemandangan yang berbeda saat kita mengunjungi warung sate Pak Doel yang berlokasi di sebelah selatan lampu merah Sri Agung Cepiring, Kendal, Jawa Tengah. Begitu kita masuk ke warung sate tersebut akan merasa seperti di museum, karena kita akan melihat barang – barang kuno seperti sepeda ontel, lampu dan tv serta masih banyak lainnya.

Perlu di ketahui bahwa warung Sate Pak Doel sudah ada pada zaman Belanda. Dan pemilik warung masih menyimpan Benda-benda kuno tersebut dan memajangnya di ruangan warung tersebut, sehingga mirip dengan museum mini.

Selain benda – benda kuno yang di pajang juga terlihat foto-foto potret Kecamatan Cepiring dan sekitarnya di masa lampau, seperti bangunan rumah dan Pabrik Gula Cepiring. Juga ada beberapa foto orang Belanda yang dulu pernah tinggal di Cepiring.

Disampaikan oleh pemilik warung Sate Pak Doel Aryo Widianto bahwa dirinya merupakan generasi ketiga dari pendirinya atau tak lain adalah kakeknya sendiri. Menurut Aryo, kakeknya yang bernama Abdul Hadi mulai membuka warung pada tahun 1946. Dan pada zaman dulu saat menjual satenya beliau menggunakan pikulan untuk keliling kampung, dan yang di rumah hanya menggunakan meja.

“Setelah Kakek meninggal, kemudian diteruskan ibu saya, dan setelah ibu saya meninggal pada hun 2016 lalu, selanjutnya saya yang meneruskan, karena saudara tidak ada yang mau,” terangnya Aryo.

Aryo juga menceritakan, pada masa penjajahan Belanda, Pak Doel terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnyal di Jogakarta, karena dikejar-kejar Belanda. Sebelum menetap di Cepiring, Pak Doel pernah tinggal sebentar di Mangkang. “Pak Doel dicari-cari Belanda, karena sebagai Lebe atau tokoh agama yang dianggap membahayakan penjajah, sehingga harus pergi meninggalkan Jogja bersama saudaranya yang sekarang tinggal di Mangkang,” tuturnya.

Sebagai penerus, Aryo ingin membuat suasana lain di warungnya, ia mendesain warungnya dengan mengisi benda-benda kuno dan foto-foto yang ada hubungannya dengan sejarah Cepiring. “Saya ingin menjadikan warung sate ini seperti museum Cepiring,” ujarnya.

Bukan hanya desain ruangan yang berubah semakin menarik, namun sajian menunya juga mengikuti kondisi zaman, yaitu mulai menggunakan hot plate. “Menggunakan hot plate ini belum lama, baru sekitar satu bulanan,” tutup generasi ketiga dari pendiri Sate Pak Doel tersebut.

Red-HJ99

Tinggalkan Komentar

loading...

27 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here