Kapan Kampanye Mencerdaskan?

0
172
Agung Prihatna

Oleh: Agung Prihatna
Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Fisip Universitas Diponegoro,
Jurusan Ilmu Politik

Dalam sebuah kontestasi demokrasi, seorang calon pemimpin harus mampu meyakinkan publik untuk memilihnya. Apalagi di negara besar yang demokratis ini, kemampuan meyakinkan publik merupakan kunci untuk meraih kemenangan. Kemampuan meyakinkan publik ini akan diuji dalam proses kampanye. Chapman Rackaway, seorang ilmuwan politik dari Fort Hays State University menghubungkan antara kualitas masyarakat demokratis dengan kualitas kampanye.

Debat perdana pemilihan presiden yang digelar bulan lalu telah menyita perhatian publik. KPU telah menggelar acara debat capres dan cawapres. Disitulah calon presiden menawarkan gagasan kepada calon pemilih. Meskipun teknisnya proses debat menuai pro kontra. Sejatinya, proses debat pilpres adalah kontestasi ide. Pemaparan visi misi bagian dari politik kecerdasan. Mengukur kemampuan. Argumen dan pandangan bahwa negeri ini dibangun oleh pikiran serta tindakan besar. Calon presiden dan wakil presiden penting memaparkan visi misi di ruang publik. Visi menggambarkan idealisme pikiran.

Calon Presiden Joko Widodo terus menggaungkan pencapaian terutama dalam pembangunan infrastruktur. Sementara tim capres Prabowo Subianto lebih banyak melontarkan kritik tajam tentang ketidakberhasilan pemerintah. Terutama kritik pada pembangunan infrastruktur yang terus dibicarakan petahana sebagai kisah sukses. Di sisi lain, juga petahana akhir-akhir ini menuding tajam adanya pihak memakai konsultan asing yang banyak merekayasa kebohongan dan menyebarnya untuk memojokkan pasangan calon. Perdebatan terus terjadi, namun dinilai kurang produktif tanpa disertai argumen yang mewakili gambaran komprehensif. Jauh dari tawaran yang solutif apalagi program alternatif. Bila hal ini terus terjadi, maka tahun politik hanya menjadi tahun yang mencemaskan.

Kampanye Pilpres 2019 tinggal dua bulan lagi, namun kita belum mendengar program konkrit yang ditawarkan capres-cawapres. Itu realitanya, masing-masing tim paslon belum fokus di program yang semestinya ditawarkan. Justru saling serang, sentimen atau faktor-faktor lain yang kurang rasional. Apalagi semakin kesini, kampanye elite justru kurang sehat dan mendidik. Tidak ada proses pendidikan rakyat, akhirnya justru memperdagangkan suara rakyat. Sempurna sudah awan gelap menyelimuti dunia politik Indonesia menjelang april mendatang. Kampanye minus ide, minim gagasan, dan tak punya tawaran alternatif kebijakan yang bisa memberikan pencerahan atau pilihan yang lebih menjanjikan.

Di tengah situasi ini, maka kampanye tidak mencerdaskan hanyalah alat berburu suara. Sebagian dibangun dengan narasi bersifat baik dan buruk, sebagian lain dibuat seolah benar dan salah. Bila kita ingin rakyat makin cerdas politik, maka tak lain akhiri kampanye sentimental. Segera lakukan upaya-upaya yang menggambarkan tentang masa depan kesejahteraan. Substantif dengan pandangan politik yang disertai program konkrit untuk memajukan kesejahteraan rakyat.

“Indonesia membutuhkan generasi ideologis yang memiliki komitmen, memegang teguh prinsip, penuh karakter, dan berintegritas yang membawa cita-cita untuk kebaikan bangsa dan negara. Generasi yang otentik karakternya, otentik cita-cita ke-Indonesiaannya.” (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here