Dibalik Defisit Neraca Jawa Tengah

0
47
Oleh : Yusnita Dewanti S.ST. M.Si Fungsional Statistisi Muda, BPS Provinsi Jawa Tengah

Harianjateng.com- Kinerja perdagangan luar negeri selama tahun 2018 mendapat sorotan belakangan ini. Hal ini tak lain karena Badan Pusat Statistik merilis data neraca perdagangan sepanjang tahun 2018 yang mengalami defisit sebesar US$ 8,57 miliar secara Nasional. Defisit nasional ini adalah yang terbesar sejak tahun 1975. Lalu bagaimana dengan neraca perdagangan di Jawa Tengah? Sebagai penyumbang ekspor nasional 3,66 persen dan impor nasional 7,84 persen selama tahun 2018 neraca perdagangan Jawa Tengah ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi neraca perdagangan Nasional.

Terhitung sampai dengan akhir Desember 2018, neraca perdagangan Jawa Tengah defisit sebesar US$ 8,19 miliar. Dari angka tersebut, sebanyak 67 persennya adalah defisit dari komoditas migas dan 33 persen dari komoditas non migas. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi neraca perdagangan Jawa Tengah secara total selalu dalam posisi defisit karena besarnya impor komoditas migas di Jawa Tengah . Hal ini tidak lepas dari posisi Jawa Tengah yang terdapat kilang minyak di Cilacap. Menurut PT Pertamina kilang Cilacap ini memasok sekitar ± 34 persen dari kebutuhan kebutuhan BBM nasional (± 60 % kebutuhan BBM di Pulau Jawa). Sehingga bahan bakar yang diimpor dari luar negeri untuk kebutuhan BBM nasional banyak yang dibongkar melalui pelabuhan Cilacap.

Selama 2018, impor migas ke Jawa Tengah menyumbang 18,90 persen dari impor migas secara Nasional. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab neraca perdagangan Jawa Tengah sering dalam posisi defisit. Meskipun demikian, impor migas bukan menjadi satu satunya penyebab defisitnya neraca perdagangan Jawa Tengah selama tahun 2018. Neraca perdagangan non migas sepanjang 2018 juga tercatat masih mengalami defisit. Defisit non migas selama 2018 tercatat sebesar US$ 2,71 miliar, naik tiga kali lipat dari defisit non migas tahun 2017 yaitu US$ 701,68 juta.

Apakah hal demikian dikatakan buruk?
Sebelum kita ambil kesimpulan, ada baiknya kita lihat terlebih dahulu, barang barang apa saja yang diimpor melalui Jawa Tengah, sehingga menyebabkan gap antara ekspor dan impor semakin melebar.

Menurut BPS, barang impor dikategorikan dalam 3 jenis kategori barang impor menurut penggunaan atau lebih sering disebut dengan BEC (Broad Economic Category). BEC membagi barang impor menjadi Barang Konsumsi, Bahan Baku/ Penolong dan Barang Modal. Dari komposisi ketiga barang tersebut, dapat dilihat untuk apa saja barang-barang yang diimpor ke Jawa Tengah.

Menurut data BPS, selama 2018, jenis barang yang diimpor ke Jawa Tengah sebanyak 80,63 persen berupa bahan baku/penolong, 12,80 persen berupa barang modal dan 6,57 persen adalah barang konsumsi. Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk membuat produk yang merupakan bagian terbesar dari barang hasil produksi sedangkan bahan penolong adalah bahan-bahan yang sifatnya hanya membantu kelancaran proses produksi suatu barang.

Wujud bahan baku/penolong terbesar yang diimpor ke Jawa Tengah selama 2018 adalah bahan bakar (BBM) (47,19 persen), kapas (5,82 persen), alat listrik dan bagiannya (5,09 persen) dan plastik dan barang dari plastik (5,07 persen). Barang modal yang diimpor ke Jawa Tengah selama 2018 berupa mesin, pesawat mekanik dan bagiannya (72,79 persen) serta mesin alat listrik dan bagiannya (13,39 persen). Barang impor untuk konsumsi persentasenya tercatat paling kecil diantara dua kategori lainnya. Selama tahun 2018 barang konsumsi yang masuk melalui pelabuhan di Jawa Tengah paling banyak adalah produk pakaian, sepeda, produk olahan makanan dan perlengkapan/barang dari plastik.

Apabila dilihat dari sisi penggunaan barang yang diimpor ke Jawa Tengah, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan defisit Jateng, karena barang yang diimpor adalah jenis bahan baku/penolong yang digunakan untuk proses keberlangsungan produksi yang akan menghasilkan output/nilai tambah perekonomian di Jawa Tengah.

Tingginya defisit migas secara detail bisa terjelaskan terkait kebutuhan BBM Nasional, sehingga langkah untuk mengurangi yang paling tepat mengurangi impor bahan baku migas dengan menaikan produk minyak mentah dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pada kilang minyak Cilacap. Dengan asumsi produksi minyak mentah dari sumur sumur minyak dan pengeboran yang dilakukan pertamina di wilayah Indonesia digunakan sebagai bahan baku pengolahan minyak oleh pertamina, tidak di ekspor.

Defisit Neraca perdagangan bisa dikurangi dengan menaikan ekspor komoditas non migas secara optimal dengan memberikan kemudahan akses bagi pelaku ekspor dan amnesty pajak pada komoditas tertentu yang potensial di Jawa Tengah. Langkah selanjutnya mengurangi ketergantungan bahan baku dan penolong dengan muatan lokal sehingga mengurangi ketergantungan impor pada komoditas yang tersedia di Jawa Tengah maupun Indonesia.

Red-HJ99

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here