Tradisi Nyelikur, Bentuk Religiusitas dan Budaya

0
80
Oleh : Laeli Zzakiyah, dari Jambon Gemawang Temanggung, yang juga Mahasiswa IAI Tribakti Kediri sekaligus santri Al-Mahrusiyah Lirboyo

Harianjateng.com- Ramadhan tahun ini memang terasa sangat berbeda karena berjalan beriringan dengan pandemi covid-19. Namun hal itu tak sedikitpun mengubah sisi keistimewaan dalam Ramadhan yaitu dengan adanya peristiwa Nuzulul Qur’an dan malam Lailatul Qadar.

Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah salah satu peristiwa turunnya Al Qur’an pertama kali di dunia, yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Rosulullah SAW, yaitu QS al-Alaq 1-5 saat rosul berkhalwat di Gua Hira’. Peristiwa yang tak kalah istimewa yang kedua, yaitu Malam Lailatul Qadar,10 hari terakhir pada bulan suci Ramadhan.

Waktu yang disebut sebagai Malam Lailatul Qadar itu jatuh diantara malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.  Malam Lailatul Qadar terkenal dengan Malam Seribu Bulan. Hal itu menjadi patokan karena nilai ibadah dan kebaikan yang ada pada malam tersebut setara dengan seribu bulan lamanya. Malam inilah yang dinanti oleh seluruh umat islam.

Menggandeng Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa, karena disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, malam penuh ampunan, malam yang digunakan umat muslim untuk berlomba-lomba dalam kebajikan dan malam istimewa yang ditunggu oleh sekian banyak umat muslim di dunia.

Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999), tanda-tanda malam lailatul qadar harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS Al-Qadr: 1)

Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh berkah dimana ditetapkannya segala kebijaksanaan seperti dalam firman allah :
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS Al-Qadar: 4)

Sungguh mulianya malam yang penuh berkah itu, maka dari itu kita sebagai umat muslim yang masih muda, harus bisa menjaga semangat kita untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabikul khairat).

Nyelikur Ugi Tansah Makmur

Nyelikur (malam ke-21 melaksanakan puasa Ramadhan)

Biasanya orang jawa melakukan tradisi malam selikuran. Malam selikuran jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti malam 21. Malam selikuran ini tak hanya soal kata, namun makna yang sangat mendalam. Dalam tradisi Jawa, malam selikuran ini mempunyai makna bukan hanya dari sisi religius saja, namun juga sisi budaya. Banyak sekali budaya Jawa yang dipadukan dalam religiusitas, namun nampak dari depan bisa diterima semua masyarakat.
Tradisi Malam Selikuran merupakan salah satu wajah Islam Nusantara, yang mewarisi semangat akulturasi Islam-Jawa versi Wali Songo dalam berdakwah. Para wali sengaja mengumpulkan massa dengan cara memasukkan syiar Islam ke dalam tradisi lokal yang sudah mengakar di masyarakat sebelum Islam masuk ke Jawa.Tradisi unik Malam Selikuran ini jika di kota Temanggung kota lahir penulis misalnya, biasanya masyarakat Temanggung melakukan dengan ragam tradisi, tentunya hal ini membuat malam tersebut sangat istimewa.

Dalam ajaran Islam di Jawa terutama, banyak sekali tradisi yang dilakukan guna menyambut Malam Lailatul Qadar. Penulis mengambil contoh dari daerahnya sendiri yaitu kota Temanggung, kota kecil yang terletak di Jawa Tengah. Banyak sekali tradisi-tradisi yang digunakan masyarakat Temanggung dalam mengapresiasi adanya peristiwa penting tersebut. Meskipun pandemi masih terus menyerang kota kecil ini, namun tak menjadikan banyak warga terlalu panik. Hal terpenting yaitu selalu menjaga jarak (physical distancing) dan menjaga dari kerumunan (Social Distancing).

Namun, malam selikuran kali ini sangat berbeda. Mungkin karena adanya pandemi covid-19 ini sehingga ruang gerak masyarakat juga sangat dibatasi. Di desa Jambon, kecamatan Gemawang, Temanggung. Tepat tanggal 13 mei 2020 atau kemarin malam setelah jamaah maghrib di masjid masyarakat menyempatkan tradisi Nyelikur dengan makan bersama di depan rumah, atau disebut momongan, ambengan. Setiap rumah membawa masakan berbeda-beda, diawali dengan doa bersama guna mendoakan agar acara lancar, diberikan kesehatan, diberi keberkahan salam bulan ramadhan, dan tentunya juga bentuk shodaqoh yang tak terasa. Setelah dibacakan doa biasanya ketua RT (rukun tetangga) lalu langsung dilanjutkan makan bersama tadi, biasanya hidangan yang disajikan tiap rumah dipersilahkan begitu saja, siapa yang suka masakan tetangganya, ya langsung saja ambil tanpa basa basi.

Ada perbedaan pada malam selikuran sekarang dengan selikuran tahun-tahun sebelumnya, karena saat ini hanya dilaksanakan satu RT saja mengingat adanya himbauan pemerintah untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Acara yang digelar pada malam selikuran tersebut  sangat menakjubkan. Dengan hati-hati ketua RT menjelaskan agar kita selalu mencuci tangan, setelah menghadiri selikuran warga diminta untuk berganti baju, meskipun dirasa di satu RT ini kami sehat-sehat saja. Hal ini sangat diperhatikan, selain tetap melaksanakan tradisi yang sudah menjadi ciri khas, namun juga tetap mematuhi aturan dari pemerintah.

Red-HJ99 

Tinggalkan Komentar