Dimensi Teologis dalam Vaksinasi

0
42

Oleh Dr. Aji Sofanudin

Survei nasional Puslitbang Bimas Agama dan Keagamaan, Kementerian Agama RI (13/01/2021) tentang “Respon Umat Beragama atas Rencana Vaksinasi Covid-19” menyebutkan 9,39 % menolak vaksinasi, sebanyak 36,25 % belum memutuskan, dan mayoritas masyarakat yakni sebesar 54,337 % siap divaksin Covid-19. Temuan ini menunjukkan bahwa di masyarakat terjadi pro kontra terkait vaksinasi Covid-19. Mayoritas masyarakat yang menolak vaksinasi karena keamanan vaksin. Sebanyak 9,27 % karena persoalan agama. Sementara responden yang belum memutuskan, wait and see masih mencari tahu detail vaksin dan rencana vaksinasi.

Sebelumnya, temuan survei kementerian kesehatan pada September 2020 menyebutkan ada 7,6 % masyarakat yang menolak dan 27 % yang ragu akan vaksinasi. Sebanyak 8 % masyarakat yang menolak karena persoalan dimensi keyakinan agama (teologis). Survei Kemenkes menyebutkan bahwa “keyakinan agama” sebagai salah satu alasan penolakan vaksin.

Teologi Agama
Dalam teologi Islam dikenal aliran Jabariyah dan aliran Qodariyah. Jabariyah atau fatalism berpandangan bahwa manusia tidak memiliki andil sama sekali dalam perbuatannya. Tuhanlah yang menentukan segalanya. Sementara aliran qadariyah atau free will berpandangan sebaliknnya bahwa manusia berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri.

Kedua aliran ekstrem tersebut saat ini sudah tidak ada. Mayoritas umat Islam di Indonesia beraliran sunni yang menggabungkan kedua aliran tersebut. Namun, pandangan di masyarakat terkait jabariyah dan qodariyah masih ada. Ada sebagian masyarakat yang menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Dia tidak percaya ikhtiar manusia. Semua sudah ada yang mengatur. Tidak terkecuali soal kesehatan.

Bagi masyarakat ini, urusan hidup mati adalah urusan Tuhan. Sehingga protokol kesehatan 3M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan) tidak berlaku bagi yang kelompok ini. Bagi mereka, soal sakit adalah sepenuhnya kehendak Tuhan. Termasuk juga soal sembuh. Sehingga mereka berpandangan vaksinasi itu tidak penting bahkan berobat ke medis juga tidak penting. Yang penting bagi mereka adalah pasrah, menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Tuhan.

Hemat penulis, alasan teologis inilah yang menolak mentah-mentah rencana vaksinasi pemerintah. Aliran ini hemat penulis ada pada semua agama. Oleh karena itulah, menjadi tugas para tokoh agama untuk memberikan pencerahan kepada kelompok ini. Umat harus mendapat bimbingan agar pandangan semacam fatalism dan jabariyah ini tidak meluas.

Para tokoh agama perlu mendesiminasikan pandangan beragama yang moderat, pandangan yang berlandaskan pada ilmu dan hikmah. Agama mengajarkan “bertanyalah pada ahlinya”. Jika urusan keamanan dan keefektivan vaksin bertanyalah kepada ahli epidemologi, bertanya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jika masalah halal haram bertanyalah kepada ulama, kepada MUI. BPOM telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA), yakni ijin penggunaan darurat terhadap Vaksin Covid-19 Sinovac. Demikian juga MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa vaksin halal dan bersih.

Dengan pertimbangan kemaslahatan umum sebagai salah satu tujuan syariat Islam, vaksinasi Covid-19 sudah sangat mendesak (dharuri). Masyarakat perlu berfikir dan bersikap secara cerdas dan rasional. Tugas memerangi Covid-19 bukanlah beban pemerintah semata. Penanggulangan wabah adalah tugas bersama seluruh elemen bangsa. Wallahu’alam.

Semarang, 13 Januari 2021

Peneliti Senior Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Tinggalkan Komentar