Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi Generasi Milenial

0
8
Oleh Septa Eka Permatasari Mahasiswi Prodi PIAUD STAINU Temanggung

Harianjateng.com- Pendidikan agama Islam merupakan proses untuk mempelajari agama Islam secara detail dan membentuk karakter generasi milenial menjadi sesuai dengan ajaran Islam. Munculnya teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi karakter mereka karena tidak pernah dibekali dengan ilmu agama. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan guna membentuk karakter (ahklak karimah).

 

Generasi milenial merupakan generasi yang lahir pada awal 2000. Anak muda sekarang banyak yang didominasi oleh generasi milenial. Oleh karena itu pendidikan agama Islam sangat penting di pelajari agar generasi milineal memiliki karakter yang baik. Ilmu pengetahuan umum juga penting namun lebih baik di seimbangkan dengan karakter yang baik.

Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Dengan proses pembelajaran yang baik bangsa atau negara dapat mewariskan nilai — nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan keahlian kepada generasi muda (milenial) , sehingga mereka dapat memiliki karakter yang baik. Pendidikan agama Islam seharusnya diajarkan pertama kali oleh orang tua, pendikan agama Islam diajarkan pelan-pelan melalui hal kecil. Misalnya, mengajarkan anak dengan berbicara santun, mengajarkan doa-doa dan membiasakannya. Sehingga anaknya dapat menjadikan kebiasaan.

Generasi milenial harus memelajari pendidikan agama Islam supaya selaras dengan pendidikan umum. Pendidikan Islam menyiapkan peranan generasi milenial dalam meneruskan tugas di dunia dan kelak dapat memetik pahalanya di akhirat. Pendidikan agama Islam merupakan bimbingan untuk membentuk kepribadian dan karakteristik yang baik. Agar generasi milenial dapat menggunakan fasilitas modern sesuai dengan ajaran agama.

Pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi, manusia secara menyeluruh melalui latihan — latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan, dan pancaindra. Oleh karena itu, pendidikan Islami harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual aupun kelompok serta mendorong aspek-aspek itu kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup.

Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek saja dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karena, tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dan Islam, yaitu menciptakan pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kebahagiaan kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Dalam konteks sosial masyarakat, bangsa, dan negara pribadi bertakwa ini dapat menjadi rahmatan lil-alamin, baik dalam skala kecil maupun besar tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Selain tujuan umum itu, terdapat pula tujuan khusus yang lebih spesifik menjelaskan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan Islam.

Banyak generasi milenial pada zaman sekarang yang kurang mau memplajari ilmu agama Islam. Sebenarnyanya hal ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi dari keluarga, lingkungan, teman, dan pergaulan yang salah. Keluarga sebagai sebuah institusi mini yang dapat memberikan pemenuhan kebutuhan anak sebagai makhluk biopsiko-sosio-spritual dengan pengembangan kepribadiannya. Dengan kepedulian keluargalah juga kebutuhan akualisasi diri anak, yang merupakan puncak dari tahap pengembangan diri dari anak, sebelum anak bersikap dengan hal yang tidak diinginkan. Mendidik anak memerlukan materi kesabaran dan ilmu.

Membangun jembatan dan mendidik anak adalah proses yang sama-sama mempersiapkan sebuah jalan menuju masa depan. Orang tua pasti menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan setiap waktu dalam peristiwa yang dilakukan oleh anaknya. Oleh karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah mempunyai keahlian dan kemampuan menghadapi setiap peristiwa tersebut dengan menanamkan karakter yang baik kepada anak generasi milenial.

Hampir 70% orang tua kurang mempedulikan anaknya salah pendidikan agama, ada yang peduli dan mencoba disekolahkan ke lembaga pendidikan agama Islam namun, orang tua sendiri tidak memberikan contoh dari penerapan yang diajarkan agama. Apabila orang tua ikut serta memberikan contoh dan menerapkan maka anak akan mengikuti apa yang dilakukan orang tua dan mnjadi kebiasaan.

Generasi milenial sangat memiliki potensi yang banyak dan menguntungkan bagi kemajuan bangsa dan Negara. Dengan catatan memiliki potensi yang disertai pendidikan agama Islam supaya seimbang. Ada beberapa fenomena yang menunjukkan kemajuan yang signifikan dan diminati masyarakat dengan gejala-gejala kemajuan terjadi pada beberapa lembaga pendidkan Islam sebagai bagian dari proses santrinisasi atau kebangkitan Islam. Minat masyarakat muslim terhadap lembaga pendidikan Islam belakagan ini sudah berkurang, terutama masyarakat yang hidup diperkotaan. Mereka tidak serta merta memasukkan putra-putrinya kemadrasah atau sekolah Islam hanya kesamaan identitas keIslaman. Akan tetapi, mereka melakukan seleksi. Jika ternyata pendidikan Islam tersebut maju, mereka tertari untuk menjadikannya pilihan. Lembaga pendidikan Islam, seperti juga pendidikan lainnya akan menghadapi gejala-gejala.

Seorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti tidak akan merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya atau bahkan mungkin kurang perduli terhadap agama. Lain halnya dengan seorang yang sejak kecil sudah banyak mendapatkan pendidikan agama atau telah ada pengaruh lingkungan untuk mengembangkan potensi keagamaannya, maka setelah siswa atau dewasa mempunyai kecenderungan kepada hidup yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.[2 masa depan pendidikan Islam dipengaruhi tiga isu besar:

• Globalisasi
• Demokratisasi
• liberalisasi Islam

Globalisasi juga mempengaruhi sistem pendidikan. Penetrasi budaya global terhadap kehidupan masyarakat Indonesia akan direspon secara berbeda oleh kalangan pendidikan: permisif, defensif, dan transformatif. Tuntutan demokratisasi pada akhirnya juga mengarah pada sistem pengolaan pendidikan; tuntutan pengolaan pendidikan yang lebih otonom dan beragam., tuntutan partisipasinya masyarakat khususnya dalam pengawasan mutu pendidikan yang transparan dan bertanggung jawab, dan tuntutan untuk mengimplemantasikan pradigma pendidikan yang menekankan peran aktif siswa.

Lembaga pendidkan Islam harus memiliki orientasi yang jelas ibarat kendaraan, orientasi seperti trayek, yaitu jalur yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian lain, orientasi itu layaknya sasaran yang mengantarkan pada tujuan, oleh karena itu orientasi dapat membuat gerak pendidikan lebih terarah, teratur, dan terencana. Untuk merumuskan orientasi tersebut perlu mempertimbangkan fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat terkait dengan pendidikan anak.

Selain dari pengawasan keluarga dan lembaga , generasi milineal harus diperhatikan saat bergaul dan berbaur dilingkungannya, karena lingkungan adalah sebagai tempat interaksinya manusia dengan makhluk hidup lainnnya. Jadi, otomatis jika kita tak menanamkan pendidikan Islam sejak dini maka anak-anak generasi milineal tidak akan besikap baik seperti orang yang tak bermoral, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki rasa tanggung jawab dan sikap bermoral. Secara potensial memang setiap individu (anak) dilahirkan membawa fitrah agama, namun potensi yang dimiliki tersebut tanpa adanya dukungan atau pengaruh dari luar atau lingkungan dimana ia tinggal, keluarga, sekolah dan masyarakat, maka jauh kemungkinannya bisa berkembang sebagaimana semestinya.

Perkembangan agama pada generasi milineal, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak lahir, dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Semakin banyak pengalaman bersifat agama, tindakan, kelakuan dan cara menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama. Pendidikan agama Islam dilakukan agar generasi milineal tidak terjerumus ke hal negativ yang tidak diinginkan dan dapan memiliki etika, karakteristik yang baik sesuai dengan ajaran agama dan Negara.

Red-HJ99

Tinggalkan Komentar