Mengetahui Uji Antioksidan pada Buah Alpukat

0
9
Oleh : Renny Nur Amalia NIM 1811304103 dan Mutiara Ayu NIM 1811304117. Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas’ Aisyiyah Yogyakarta.

Harianjateng.com- Alpukat (Persea americana Mill.) merupakan tumbuhan yang banyak mengandung senyawa yang bersifat antioksidan. Antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan yaitu dapat mencegah antara lain pemicu penyakit degeneratif seperti: kanker, jantung, katarak, diabetes, hati, penuaan dini. Salah satu pemicu terjadinya penyakit degeneratif dapat disebabkan oleh radikal bebas.

 

Antioksidan merupakan suatu zat yang dapat menangkal atau mencegah reaksi oksidasi dari radikal bebas yang oksidasi merupakan suatu reaksi kimia yang mentransfer elektron dari satu zat ke oksidator. Pentingnya peran antioksidan yaitu ketika sebuah molekul kehilangan elektron dan berubah menjadi radikal bebas, maka molekul antioksidan akan masuk dan menetralkannya. Tanpa adanya antioksidan, maka radikal bebas akan merusak tubuh kita dengan sangat cepat. Namun radikal bebas juga memiliki fungsi penting untuk kelangsungan hidup kita.

Sebagai contoh, sel-sel kekebalan tubuh menggunakan radikal bebas untuk membunuh bakteri yang mencoba menginfeksi kita. Kita membutuhkan jumlah radikal bebas dan antioksidan yang tepat. Ketika radikal bebas melebihi jumlah antioksidan, ini dapat menyebabkan keadaan yang disebut stress oksidatif, stres oksidatif yaitu kerusakan pembuluh darah serta organ tubuh akibat adanya ketidakseimbangan antara zat radikal bebas dengan antioksidan tubuh. Selama stres oksidatif, molekul penting dalam tubuh dapat menjadi sangat rusak bahkan menyebabkan kematian sel. Reaksi oksidasi dapat menghasilkan radikal bebas dan memicu reaksi berantai, menyebabkan kerusakan sel dalam tubuh.

Berdasarkan sumbernya antioksidan terdiri dari antioksidan alami dan antioksidan sintesis. Antioksidan alami berasal dari tanaman yang ditambahkan ke produk pangan dalam bentuk tanaman aslinya ataupun hasil ekstraksinya sedangkan antioksidan sintesis dibuat atau disintesis secara kimia. Antioksidan banyak sekali terkandung di dalam sayuran dan buah-buahan, termaksud alpukat. Buah alpukat mengandung 11 vitamin dan 14 mineral, protein, vitamin B2, vitamin B3, kalium, dan vitamin C. Buah alpukat tersusun dari bagian-bagian yaitu daging buah, biji, dan kulit buah. Bagian dari buah alpukat yang sering dimanfaatkan adalah daging buah untuk dibuat jus segar, atau dijadikan campuran makanan sehat lainnya. Kandungan lain yang terdapat dalam buah alpukat yaitu polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon, saponin, tannin, monoterpenoid,dan seskuiterpenoid.

Uji antioksidan dilakukan untuk mengetahui aktivitas serta kandungan antioksidan yang berasal dari buah alpukat. Pengujian ini dapat dengan mudah dilakukan di rumah secara sederhana tanpa menggunakan alat canggih. Hanya dengan menggunakan irisan buah alpukat yang berukuran 1cm yang di masukkan kedalam wadah berisi larutan vitamin C dan aquadest, jenis larutan vitamin C yang digunakan yaitu enervon C yang sudah ditumbuk hingga lembut dilarutkan ke dalam aquadest. Sampel kemudian diamkan 15 menit dan dilihat perubahan warna yang terjadi. Hasil positif adanya aktivitas antioksidan dalam alpukat ditandai dengan berubahnya warna alpukat menjadi lebih gelap dari sebelumnya.

Adapun cara pengujian lainnya untuk mendeteksi aktivitas antioksidan, yakni uji secara kualitatif yang dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dan uji dengan semi kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan metode penangkapan radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl1- picrylhydrazyl). Metode DPPH merupakan metode terbukti akurat, reliable dan praktis. Prinsip dari uji senyawa antioksidan menurut Jurnal Media Pharmaceutica Indonesiana yaitu dengan adanya kandungan atom hydrogen dalam senyawa antioksidan yang saling mengikat dengan electron bebas pada senyawa radikal sehingga memberikan perubahan dari radikal bebas (diphenylpicrylhydrazyl) menjadi sebuah senyawa non-radikal (diphenylpicrylhydrazine).

Tahapan untuk uji antioksidan pada metode DPPH ini yaitu, pada tahapan pertama dengan dilakukan pembuatan simplisia, kedua dengan dilakukan proses ekstrasi, dan yang terakhir yaitu uji kandungan antioksidan. Tahapan pembuatan simplisia yaitu dengan mengeringkan bagian buah alpukat yang keras dengan menggunakan oven agar kandungan air dan kelembaban dalam sampel dapat berkurang sehingga proses ekstrasi dapat berjalan dengan efisien. Tahapan ekstrasi pada buah alpukat ini memiliki 2 proses yang berbeda hal ini disebabkan karna alpukat memiliki 2 tekstur yaitu tekstur lembut pada bagian daging buah dan tekstur yang keras pada kulit dan biji.

Proses ekstrasi pada daging buah alpukat yaitu dengan menghancurkan daging buah dengan blender atau dengan mortar alu hingga teksturnya berubah menjadi pasta, tambahkan aquadest sebanyak 250 mL ke dalam tabung volumetric berisi sampel. Diaduk hingga merata dan disaring dengan kertas saring. Hasil filtrate diuapkan dengan evaporator bersuhu 40°C bertujuan untuk menghilangkan zat pelarut yang digunakan dan dilakukan proses liofilisasi untuk menghilangkan sisa air dalam substrat. Proses ekstrasi pada bagian keras buah alpukat yaitu dengan merendam simpliasia yang sudah dibuat dengan larutan etanol 96% kemudian diuapkan dengan alat evaporator untuk menghilangkan zat pelarut.

Pembacaan pada uji antioksidan dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis dengan menggunakan vitamin C atau asam askorbat sebagai control positif serta dibuat konsentrasi bervariasi berasal dari hasil ekstrasi yang diambil 1mL dan dimasukkan ke tabung reaksi yang berisi 1mL reagen DPPH. Sampel dibaca dengan panjang gelombang 515-517 nm, dengan etanol sebagai blanko.

Uji antioksidan secara kualitatif dapat dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis atau sering disingkat dengan istilah KLT. Metode kromatografi lapis tipis ini sama sama menggunakan reagen DPPH. Langkah awal untuk uji antioksidan pada alpukat dengan metode ini dengan cara membuat garis pembatas pada bagian atas dan bawah plat KLT yang diberikan jarak pada bagian atas plat yaitu 1 cm dan bagian bawah plat 0,5 cm. Sampel buah alpukat hasil ekstrak etanol ditotolkan pada plat KLT. Plat KLT dimasukkan kedalam chamber yang telah berisi eluen, jenis eluen yang digunakan yaitu N- heksan : etil asetat (6:1) yang telah dijenuhkan. Eluen dalam chamber dibiarkan terelusi hingga mencapai batas yang telah dibuat pada plat KLT.

Tahapan selanjutnya yaitu, plat KLT dikeluarkan dari dalam chamber dan segera diamati di bawah sinar lampu UV berkisar 336 nm, kemudian plat disemprotkan dengan reagen DPPH. Timbulnya bercak pada plat KLT yang menandakan adanya antioksidan yaitu akan berubah menjadi warna putih kekuningan dengan latar belakang berwarna ungu.

Pengujian antioksidan dengan 2 cara uji ini masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri. Metode kromatografi lapis tipis (KLT) memiliki kelebihan yaitu memiliki reprodusibilitas sampel yang cukup tinggi, biaya operasional yang lebih murah, lebih mudah dan praktis untuk mengidentifikasi senyawa target yang ingin diuji, sedangkan pada uji dengan DPPH spektrofotometer UV-Vis lebih kompleks, lebih sensitive untuk mendeteksi kandungan antioksidan, rentang waktu pengujian yang lebih cepat namun uji dengan metode ini memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi dibandingkan dengan uji kromatografi, dan tidak semua orang dapat melakukan uji dengan metode DPPH ini karna pada metode perlu alat yang cukup mahal untuk mendeteksi aktifitas dari senyawa antioksidan.

Red-HJ99

 

Tinggalkan Komentar