Mahasiswa, Aktivisme, dan Gerakan Edukasi Masyarakat

0
2
Oleh : Firhandika Ade Santury

Semarang, Harianjateng.com- Peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional pada tanggal 5 Juni 2021 dengan tema “Restorasi Ekosistem” marak diperingati oleh seluruh kalangan masyarakat dunia. Di Indonesia, peringatan hari lingkungan hidup sedunia dimanfaatkan oleh segenap kalangan masyarakat sipil dan berbagai institusi sektor lingkungan sebagai ajang penekanan kebijakan ramah lingkungan dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya ancaman krisis iklim.

 

Perlu diketahui, istilah krisis iklim yang digaungkan oleh kalangan aktivis lingkungan sejatinya merupakan istilah yang mengambarkan parahnya keruskan alam di Indonesia akibat aktivitas pembangunan yang kian menjamur. Secara nyata, krisis iklim mengancam kehidupan manusia, kini dan di masa yang akan datang.

Aksi ataupun gerakan yang dilatar belakangi oleh kondisi krisis iklim menuntut hadirnya keadilan ekologis atau biasanya dikenal dengan istilah “ Climate Justice Now!”. Berbeda dengan aksi yang sudah-sudah dimana diselenggarakan di wilayah perkotaan yang inheren dengan pembangunan, sekumpulan mahasiswa semester 6 Universitas Diponegoro memilih cara berbeda dengan melakukan aksi di wilayah pedesaan.

Masih dalam agenda Kuliah Kerja Nyata di Desa Jetis, sekumpulan mahasiswa–menularkan aktivismenya—menginisiasi aksi peringatan hari lingkungan hidup sedunia bersama Kepala Desa dan pemuda-pemuda desa setempat. Hal dilakukan bukan tanpa sebab. Desa Jetis merupakan wilayah yang berada di lereng Gunung Ungaran yang terkenal subur dan hijau.

Berbeda dengan aksi wilayah kota yang secara tegas menuntut keadilan ekologis dengan tuntutan pengurangan pembangunan yang merusak alam dan peningkatan ruang terbuka hijau, aksi kali ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai bahaya krisis iklim. Aksi dilakukan dengan bentuk jalan bersama dengan megenakan poster hari lingkungan hidup sedari lapangan desa hingga ke Balai Desa Jetis.

Kesuburan dan kehijaun Desa Jetis harus dilihat lebih dari sekadar aktivitas produksi untuk menghasilkan uang. Lebih jauh, hal tersebut harus dilihat sebagai anugrah alam yang harus dirawat dan dijaga untuk memastikan keberjalanan hidup generasi mendatang. Mengingat posisi Jetis yang vital –berstatus sebagai wilayah resapan dan penyangga—bila kehijauan tersebut tidak dijaga maka kehidupan masyarakat di masa yang akan datang akan terancam. Kesadaran tersebutlah yang ingin dibangun melalui edukasi dalam agenda aksi peringatan hari lingkungan hidup sedunia.

Red-HJ99

Tinggalkan Komentar