Geluti Seni Tari sebagai Jalan Hidup

0
43
Fera Dwidarti

Harianjateng.com – Bagi Fera Dwidarti, seni merupakan jalan hidup yang harus digeluti dengan serius. Meski berliku, lenggak-lenggok dan mengatur irama kehidupan, seni tari baginya adalah jalan hidup.

Hal itulah yang membuat perempuan kelahiran Kudus, 17 Februari 1991 ini terus menekuni seni tari di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik.

Seni Tari sebagai Jalan Hidup
Lulusan S1 Pendidikan Seni Tari UNY dan S2 Teknologi Pendidikan UNS ini kini menjadi dosen PGSD Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Selain mengajar sejumlah mata kuliah, ia dipercaya mengampu mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama SD, Pendidikan Keterampilan dan Prakarya SD, Seni Musik, dan Seni Lukis yang sesuai keahliannya.

Sejak kecil, bakat dan hobi di dunia seni mengantarkannya menggondol sejumlah kejuaraan dalam lomba bidang akademik dan nonakademik. Tahun 2007 Juara I PBB dalam Temu Karya Penegak Universitas Muria Kudus, tahun 2008.Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah di SMA N 2 Semarang, tahun 2008 Juara III Pentas Seni di UP3 STAIN Kudus, tahun 2010 Penyaji Kesenian dalam Gelar Budaya Etnis oleh Dinas Kebudayaan DIY, tahun 2012 Juara Harapan II Lomba Tari Kretek Djarum Foundation se Jateng & DIY.

Tahun 2013 Juara I Catwalk tingkat Nasional di Yogyakarta dan Juara II Lomba Tari Kretek Djarum Foundation se Jateng & DIY, tahun 2016 Juara Harapan 1 Lomba Solo Song Kecamatan dan 2017 Juara III Lomba Baca Puisi.

“Ya, seni tari memang sudah menjadi jalan hidup saya. Dengan berkegiatan seni saya mendirikan sanggar tahun 2014 dan berdedikasi untuk pelatihan anak-anak di perumahan,” ungkap dia kepada Harianjateng.com, Sabtu (18/12/2021).

Ketika itu, anak-anak yang latihan di sanggarnya mengikuti berbagai perlombaan. “Lalu saat saya menjadi dosen, saya juga mengamalkan ilmu yang saya dapat di perkuliahan dan pengalaman serta dari sanggar itu,” ungkap dia.

Ia pun menceritakan ketika ingin menghidupkan seni tari di kampusnya, ia harus berjuang untuk mendapatkan dukungan dari pemangku kebijakan kampus. “Tahun 2016 itu belum ada sanggar seni tari di kampus saya. Kemudian saya memperjuangkan dan menyampaikan hal itu kepada pimpinan, dan alhamdulillah disetujui pimpinan dan berjalan sampai sekarang,” ujar dia.

Ketika ada kegiatan di kampus, ia juga sering mendapatkan amanat untuk membimbing mahasiswa dalam menggeluti tari sebagai perform ketika acara formal.

Untuk menduniakan seni tari lokal, ia mengharap adanya apresiasi dari semua orang terhadap tari lokal. “Selain itu perlu pentas, membuat acara di balai desa, atau pentas virtual agar seni tari lokal dikenal masyarakat secara luas. Yang paling penting juga inovasi karena ini sebagai kunci. Misal masyarakat desa membuat inovasi tari. Nah ini menarik untuk melahirkan seni tari lokal khas Indonesia,” jelas dia.

Seni dan Joget
Sebagai akademisi yang kini menempuh Program Doktoral di UNY, ia menyoroti bahwa seni dan joget sering disalahpahami. Maka ia berpendapat bahwa semua itu adalah efek ketidakmauan dan ketidakpedulian masyarakat belajar hakikat seni.

“Ya sedikit banyak dari sisi kostumnya dan gerakannya harus dijaga1. Padahal tari dengan joget itu berbeda dan orang yang memahami tari tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun orang yang melihat sisi negatifnya pasti akan berkata jogetannya begitu, pakaiannya begitu. Padahal tarian bisa menyesuaikan kondisi dan situasi,” tegas Fera.

Misal ya, kata dia, ada tari gambyong itu penarinya memakai kemben. “Kita bisa memodifikasi diperhalus, bisa memakai jilbab. Artinya ini bukan orangnya yang membuka aurat, tapi lebih pada pikiran penontonnya sih,” tegas dia.

Ia berharap, ke depan para seniman tari atau pelaku seni tari bisa menerapkan skills yang ia miliki dengan memperhatikan attitude. “Konsepnya jelas, dalam tari itu ada wiraga, wirasa dan wirama. Inilah kunci agar penari bisa maksimal dan menunjukkan bahwa seni itu estetis dan etis,” pungkas dia. (Adm).